SELAMAT DATANG DI ODHOSUKA.BLOGSPOT.COM DAN TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG SAYA

MASALAH TENTANG KENAIKAN BBM



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatNya kami dapat menyelesaikan tulisan ini.Makalah mengenai kenaikan BBM yang sedang gencar diperbincangkan saat ini
Penulisan makalah ini telah saya selesaikan dengan segenap kemampuan saya, walau masih terdapat banyak kekurangan didalamnya. Oleh karena itu saya berharap agar pembaca maupun pihak - pihak lain dapat berkenan memberikan kritik dan sarannya demi penyempurnaan pembuatan makalah berikutnya.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca,  dan saya ucapkan terimakasih atas kesempatan dan perhatiannya.









Samarinda, Maret 2012


                                         Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………………............................…1
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………............................…...3
A.    Latar Belakang…………………………………………………………...........................….3
B.     Tujuan………………………………………………………...........................……………..4
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………............................…..…….5
Dampak kenaikan Harga BBM……………………………………………….............................…...6
Pengguna BBM : Rakyat Miskin vs. Kelas Menengah………………………................................…...7
Kenaikan Harga BBM tidak Sebabkan Penghematan BBM ……………...............................………..9
BAB III PENUTUP………………………………………………………..............................……..13
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………..............................…………...14


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Haruskah BBM naik? Ini dia alasan Kenapa BBM harus naik dan alasan yang logis dan tidak memungkinkan lagi jika tidak di naikan. Pemerintah bukan tidak menuruti permintaan rakyat untuk tidak menaikan BBM, Namun kenaikan BBM tetap saja di haruskan jika Pemerintahan Indonesia ini akan berjalan lebih baik dari saat ini.
Partai Demokrat kembali menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Kenaikan harga BBM bersubsidi dipandang sebagai suatu hal yang tak terhindarkan, menyusul meroketnya harga minyak mentah dunia.
Berikut alasan mengapa BBM harus naik.Bahwa harganya dengan Rp 4.500 per liter melihat perkembangan terakhir di mana harga solar keekonomian sudah Rp 9.390 per liter pada bulan Maret, kemudian pertamax Rp 9.200 per liter, dan premium keekonomian Rp 9.018 per liter.
Jika selisih tersebut semakin menaik maka harga tersebut akan membuat negara ini menjadi lebih terpuruk lagi dan harus menambahkan budget untuk memberikan Subsidi lebih lagi untuk rakyat.
Jika kondisi harga keekonomian telah melambung, selisihnya pun semakin besar dengan harga yang berlaku saat ini. Misalnya saja, kata Bambang, harga premium keekonomian yang telah dua kali lipat dari harga sekarang. Ini berarti besaran subsidi per liternya mencapai lebih dari Rp 4.500..Bahkan, kalau kita melihat dua bulan pertama tahun ini, deviasi harga ICP dibandingkan asumsi yang kita pasang di APBN 2012 sudah mencapai 32,3 persen. Demikian juga lifting yang berada di bawah sasaran.
Dengan kondisi-kondisi itu, pemerintah merasa penting mengeluarkan kebijakan terkait harga BBM. Bambang mengatakan, harga BBM ini menjadi jangkar untuk menyelamatkan APBN tahun ini dan juga menyehatkan APBN ke depannya. Jika harga BBM tidak disesuaikan, defisit APBN bisa mencapai 3,6 persen.Tentunya ada constraint dari UU Keuangan Negara yang menyatakan bahwa defisit tidak boleh lebih dari 3 persen.
Harga BBM, lanjut dia, akan menjadi kunci penting untuk mendorong diversifikasi energi dari BBM ke sumber energi lain. Untuk itu, harga BBM pun harus lebih mahal dari harga energi lainnya, seperti bahan bakar gas, supaya masyarakat bisa menggunakan energi selain BBM.
Kebijakan menaikkan harga BBM adalah bagian dari upaya redistribusi pendapatan. Dikatakannya, jika dilihat dari besar rupiah, subsidi BBM cenderung dinikmati oleh kelompok masyarakat menengah ke atas yang seharusnya tidak menikmati subsidi tersebut.Sebagai bagian dari kebijakan harga BBM tersebut, penghematan yang bisa dihasilkan dari pengurangan subsidi BBM bisa dipakai untuk meng-upgrade atau memperbaiki infrastruktur.

B. Tujuan
Mengetahui mengapa dapat terjadi kenaikan BBM ,apa alasan serta masalah apa saja yang akan terjadi dari dampak kenaikan BBM.




BAB II
PEMBAHASAN

Pemerintah tampaknya sudah bulat akan menaikkan harga BBM bersubsidi. Ini terlihat dari pernyataan Presiden SBY saat membuka sidang kabinet di Jakarta tanggal 22 Februari lalu. "Saya sudah ambil keputusan...harga BBM mau tidak mau mesti disesuaikan dengan kenaikan yang tepat," ungkap SBY seperti dikutip oleh Antaranews.com (22/2).

Sampai saat ini, jumlah kenaikannya belum bisa dipastikan. Namun, dalam Rapat Kerja dengan Komisi VIII DPR pada 28 Februari, pemerintah mengusulkan dua opsi kenaikan BBM bersubsidi. Opsi pertama adalah menaikkan harga eceran premium dan solar sebesar Rp1500 per liter, sementara opsi kedua memberikan subsidi tetap sebesar Rp2000 per liter untuk premium dan solar.

Pemerintah dan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat menyepakati kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebesar Rp 1.500 per liter. Total subsidi energi menjadi Rp 225 triliun. Jumlah ini terdiri dari subsidi BBM Rp 137 triliun, subsidi listrik Rp 65 triliun dan cadangan risiko energi Rp 23 triliun.
Pembahasan anggaran perubahan dengan agenda utama kenaikan harga BBM, dalam rapat Badan Anggaran DPR. Hampir setiap angka yang disampaikan pemerintah mendapat persetujuan dari anggota fraksi pendukung pemerintah; Fraksi Demokrat, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Kedua opsi memang memiliki konsekuensi yang berbeda. Kalau di opsi pertama, harga eceran akan tetap, sementara besaran subsidi akan naik turun sesuai dengan gap antara harga eceran dengan harga minyak dunia yang fluktuatif. Di opsi kedua, besaran subsidi akan tetap, sementara harga eceran yang akan naik turun sesuai dengan harga minyak dunia yang fluktuatif. Tapi, pada dasarnya, kedua opsi tetap sama, yaitu sama-sama akan menyusahkan kita sebagai rakyat.

Apa alasan pemerintah menaikkan harga BBM? Sama seperti alasan kenaikan sebelumnya di tahun 2008, bahwa harga minyak dunia naik, sehingga menekan anggaran untuk subsidi BBM. Jadi, untuk menyelamatkan anggaran, pemerintah harus mengurangi subsidi BBM. Pertanyaannya, apa gunanya anggaran terselamatkan kalau kita sebagai rakyat sengsara?


Dampak Kenaikan Harga BBM
Sudah bisa dipastikan, kenaikan BBM akan merugikan masyarakat. Pengguna BBM seperti pengendara motor dan mobil akan langsung merasakannya. Transportasi umum juga sudah pasti akan menaikkan ongkos jasanya, sehingga pengguna transportasi umum juga akan segera merasakan dampaknya. Lalu, para pengguna transportasi umum kemungkinan akan beralih ke sepeda motor untuk berhemat, sehingga kenaikan harga BBM pun akan membunuh transportasi umum. Semuanya akan kejepit.

Tapi tidak hanya sektor transportasi yang akan terkena dampaknya. Dalam Peraturan Presiden No. 15 Tahun 2012 Tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis Bahan Bakar Tertentu, disebutkan beberapa kategori pengguna BBM bersubsidi selain transportasi. Mereka adalah usaha perikanan yang terdiri dari nelayan dan pembudi daya ikan skala kecil; usaha pertanian kecil dengan luas maksimal 2 hektar; usaha mikro; dan pelayanan umum seperti krematorium. Semua pengguna ini akan terkena dampak kenaikan harga BBM.

Logikanya mirip dengan dampak di sektor transportasi. Kita ambil contoh petani kecil tanaman pangan. Harga tanaman pangan para petani ini akan naik, karena ongkos produksi untuk memproduksi tanaman pangannya akan naik akibat kenaikan harga BBM. Artinya, para pembeli tanaman pangan para petani ini akan terkena dampaknya. Lalu, dengan lumayan banyaknya tanaman pangan impor, ada kemungkinan para pembeli tanaman pangan si petani akan beralih ke tanaman pangan impor. Akibatnya, kenaikan harga BBM pun akan membunuh usaha pertanian si petani kecil.

Kenaikan BBM memang cenderung akan menaikkan harga barang-barang lain atau inflasi. Para ahli pun sudah memprediksinya, meski dengan angka yang beragam. Pengamat ekonomi Aviliani, misalnya, menyatakan bahwa kenaikan harga BBM akan mengakibatkan tingkat inflasi nasional tahun ini menjadi 6,5%. "Apabila kenaikan BBM berkisar Rp1.500 sampai Rp2.000 kemungkinan inflasi akan bertambah sekitar 1 hingga 2 persen sehingga inflasi nasional akan naik menjadi sekitar 6,5%," ungkap Aviliani seperti dikutip Antaranews.com (25/2).

Meski demikian, pemerintah dan para ideolognya (ekonom neoliberal) menyatakan yang sebaliknya. Mereka menyatakan bahwa kenaikan harga BBM tidak akan berdampak ke masyarakat banyak. Kemudian, berangkat dari problematika konsumsi BBM, mereka juga menyatakan bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak positif pada penghematan konsumsi BBM. Mari kita periksa argumentasi mereka ini.


Pengguna BBM: Rakyat Miskin vs. Kelas Menengah


Para pendukung kenaikan harga BBM bersubsidi menyatakan bahwa kenaikan harga BBM tidak akan berdampak banyak pada rakyat miskin, karena konsumsi BBM rakyat miskin itu kecil. Sebaliknya, beban terbesar kenaikan harga BBM ada pada kelas menengah ke atas, karena mereka lah yang mengkonsumsi bagian terbesar dari BBM bersubsidi melalui mobil pribadi mereka. Argumen ini bukan hanya diajukan sekarang, tapi juga pada kenaikan harga BBM yang lalu. Dengan asumsi bahwa pengguna terbesar BBM bersubsidi adalah sektor transportasi, mari kita lihat data jumlah kendaraan bermotor di Indonesia menurut jenisnya:
Tabel 1
Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis Kendaraan (unit), 2008-2010

Jenis Kendaraan
2008
2009
2010*)
Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
%
7.695.500
12,39
8.111.508
12,04
8.828.114
11,45
Bus
2.138.439
3,44
2.238.790
3,32
2.351.297
3,05
Truk
4.569.519
7,36
4.610.400
6,84
4.818.280
6,25
Sepeda Motor
47.683.681
76,80
52.433.132
77,80
61.133.032
79,26
Total
62.087.139
100,00
67.393.139
100,00
77.130.723
100,00


   *) Angka sementara
   Sumber: BPS, Statistik Indonesia 2011

Dari data di atas, kita bisa lihat bahwa jumlah kendaraan bermotor yang terbanyak adalah sepeda motor dengan persentase rata-rata sekitar 77,95% dari seluruh kendaraan bermotor yang ada di Indonesia. Sementara, mobil penumpang, meski menempati urutan yang kedua, tapi jumlahnya jauh di bawah sepeda motor. Persentase rata-rata mobil penumpang dari keseluruhan kendaraan bermotor di Indonesia hanya sekitar 11,96%. Data di atas memang hanya sampai tahun 2010, tapi karena ada pola yang mirip selama 2008-2010, kita bisa berasumsi bahwa pola serupa pun terjadi sampai tahun 2012.

Tanpa pengolahan data lebih lanjut saja, kita sudah bisa mencurigai pendapat para pendukung kenaikan harga BBM bahwa konsumsi BBM kelas menengah ke atas lebih besar dari konsumsi BBM rakyat miskin. Pasalnya, jumlah kendaraan bermotor yang terbanyak adalah sepeda motor dan sepeda motor itu banyak digunakan oleh rakyat miskin. Tapi baiklah, kita memang tidak bisa mengasumsikan bahwa semua pemilik sepeda motor itu rakyat miskin, karena ada juga kelas menengah ke atas yang memiliki sepeda motor.

Karena keterbatasan data, kita asumsikan saja bahwa semua pemilik mobil itu adalah kelas menengah ke atas. Dan bahwa 1 mobil dimiliki oleh 1 orang kelas menengah ke atas. Kemudian, tiap kelas menengah ke atas pemilik mobil juga memiliki 1 sepeda motor. Dengan demikian, di tahun 2010, kita dapati jumlah sepeda motor rakyat miskin adalah 61.133.032 - 8.828.114 = 52.304.918 sepeda motor. Kalau kita asumsikan bahwa 1 rakyat miskin memiliki 1 sepeda motor, maka kita dapati jumlah sepeda motor rakyat miskin itu sama dengan jumlah pemiliknya.

Sekarang, dengan mengasumsikan bahwa semua kelas menengah ke atas yang memiliki mobil serta semua rakyat miskin yang memiliki sepeda motor adalah pengguna aktif BBM, maka kita dapati jumlah pengguna BBM dari kelas menengah ke atas adalah 8.828.114 orang, sementara pengguna BBM dari rakyat miskin adalah 52.304.918 orang. Dengan kata lain, jumlah rakyat miskin yang menggunakan BBM jauh lebih banyak dari jumlah kelas menengah ke atas yang menggunakan BBM.

Memang betul bahwa jumlah rakyat miskin pengguna BBM yang lebih banyak dari jumlah kelas menengah ke atas pengguna BBM bukan berarti konsumsi BBM rakyat miskin itu secara otomatis lebih besar dari konsumsi BBM kelas menengah ke atas. 1 orang pengguna mobil yang menghabiskan 40 liter bensin seminggu akan lebih besar konsumsi BBM-nya daripada 3 orang pengguna sepeda motor yang per orangnya menghabiskan 10 liter bensin seminggu (30 liter untuk 3 orang). Tapi, perbandingan jumlah pengguna BBM yang kelas menengah ke atas dengan rakyat miskin itu tidak kecil. Mungkinkah 8.828.114 orang pengguna mobil konsumsi BBM-nya lebih besar dari 52.304.918 orang pengguna sepeda motor?
Kenaikan Harga BBM Tidak Sebabkan Penghematan BBM

Sekarang, mari kita ke argumen kedua dari para pendukung kenaikan BBM, yaitu bahwa kenaikan harga BBM akan berdampak pada penghematan BBM. Argumen ini, misalnya, terlihat dalam tulisan Anggito Abimanyu, "Kenaikan Harga BBM", yang diterbitkan di Kompas.com, 1 Maret 2012. Menurutnya, "Berbeda dengan tahun 2005 dan 2008, kenaikan harga subsidi saat ini tidak hanya disebabkan oleh kenaikan harga dunia, tetapi juga oleh melonjaknya konsumsi BBM bersubsidi."

Ia kemudian melanjutkan, "sudah banyak studi yang membuktikan bahwa kenaikan harga BBM akan diikuti dengan penurunan konsumsi BBM." Begitu pula, ketika membahas pengalaman kenaikan harga BBM tahun 2005, ia menyatakan "Dengan kenaikan harga BMM juga terjadi penghematan konsumsi BBM," meski tanpa menampilkan data apapun mengenai hal itu. Intinya, logika Anggito adalah demikian, bahwa kenaikan harga BBM akan menyelesaikan problem pemborosan BBM yang menjadi salah satu penyebab kenaikan subsidi BBM yang konon menjepit anggaran pemerintah.

Pertanyaannya, betulkah kenaikan harga BBM akan mendisiplinkan pemborosan BBM? Mari kita lihat data-data dalam Tabel 2 tentang konsumsi BBM bersubsidi di Indonesia 2005-2010. Di sini, yang saya masukkan sebagai BBM bersubsidi hanyalah mogas (motor gasoline atau bensin), solar dan minyak tanah, karena ketiga jenis BBM itulah yang sering disebutkan dalam berbagai peraturan negara tentang penetapan harga eceran BBM (subsidi). Begitu pula, di sini diasumsikan bahwa jumlah total dari ketiga jenis BBM ini disubsidi.


Tabel 2
Konsumsi BBM Bersubsidi di Indonesia 2005-2010 (Barel)

Tahun
Mogas
Solar
Minyak
Tanah
BBM Bersubsidi
Jumlah Penduduk
BBM Bersubsidi
Per Kepala
2005
101.867.000
175.518.000
67.395.000
344.780.000
227.303.175
1,52
2006
99.458.000
164.656.000
59.412.000
323.526.000
229.918.547
1,41
2007
105.940.000
166.448.000
58.672.000
331.060.000
232.461.746
1,42
2008
114.796.000
175.148.000
46.836.000
336.780.000
234.951.154
1,43
2009
129.255.000
173.134.000
28.332.000
330.721.000
237.414.495
1,39
2010
148.575.000
174.669.000
18.093.000
341.337.000
239.870.937
1,42

 Sumber: diolah dari data Kementrian ESDM dan Bank Dunia.

Tahun 2008 adalah tahun di mana rezim SBY menaikkan harga BBM. Pada bulan Mei 2008, pemerintah menaikkan harga minyak tanah dari Rp2.000 menjadi Rp2.500, harga premium dinaikkan dari Rp4.500 menjadi Rp6.000, dan harga minyak solar dinaikkan dari Rp4.300 menjadi Rp5.500. Tapi dari data di Tabel 2, kita lihat, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam konsumsi BBM bersubsidi antara tahun 2008 dengan tahun-tahun lainnya. Bahkan konsumsi mogas dan solar di tahun 2008 lebih besar daripada tahun 2006 dan 2007. Padahal pada tahun 2006 dan 2007, harga premium masih Rp4.500, dan harga minyak solar masih Rp4.300.

Harus diakui bahwa konsumsi BBM Indonesia memang problematik. Konsumsi BBM kita sudah melebihi produksi BBM dalam negeri, sehingga untuk menutup gap antara konsumsi dan produksi, kita harus mengimpor BBM dari luar. Kita bisa lihat ini dalam data-data dalam Tabel 3 mengenai produksi, konsumsi dan impor BBM Indonesia. Artinya, kita memang perlu mendisiplinkan konsumsi BBM Indonesia. Celakanya, pemerintah mengajukan solusi yang keliru. Kenaikan harga BBM bukan hanya tidak mengurangi konsumsi BBM, tapi juga menyengsarakan kita sebagai rakyat. Dengan kata lain, kenaikan harga BBM, sudah tidak menyelesaikan masalah, menimbulkan malapetaka pula.
 

Tabel 3
Produksi, Konsumsi dan Impor BBM Indonesia 2005-2010
(Ribu Barel)

Tahun
Produksi BBM
Konsumsi BBM
Impor BBM
2005
268.529
397.802
164.842
2006
257.821
374.691
131.765
2007
244.396
383.453
149.479
2008
251.531
388.107
153.105
2009
246.289
379.142
137.817
2010
241.156
388.241
146.997

    Sumber: diolah dari data Kementrian ESDM.


Saat ini hanya sedikit negara yang masih memberikan subsidi bahan bakar minyak (BBM) kepada rakyatnya. Dengan subsidi itulah, harga BBM masih bisa murah di tengah lonjakan harga minyak dunia. VP Komunikasi PT Pertamina Mochamad Harun mengatakan, saat ini dengan harga BBM Rp 4.500 per liter, Indonesia masuk dalam jajaran negara yang harga BBM-nya termurah di dunia.
’’Indonesia ada di urutan ke tujuh,’’ ujarnya di Jakarta Senin (19/3).
Menurut Harun, negara yang masih memberikan subsidi besar sehingga harga BBM-nya bisa sangat murah adalah negara-negara penghasil minyak yang melimpah. ’’Hanya Indonesia negara net importer yang masih memberikan subsidi besar untuk BBM,’’ tuturnya.
Indonesia masuk golongan negara net importer karena konsumsi BBM-nya lebih tinggi daripada produksi minyaknya. Akibatnya, Indonesia harus mengimpor minyak atau BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebagai gambaran, dengan tingkat produksi minyak 900 ribu barel per hari, kebutuhan minyak/BBM Indonesia 1,3 juta per hari. Dengan begitu, setiap hari Indonesia harus mengimpor 400 ribu barel minyak/BBM.

Harun menyebut, negara-negara dengan harga BBM termurah adalah Venezuela, Iran, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab dan Indonesia. Produksi minyak negara lain itu jauh lebih besar daripada Indonesia. Jumlah penduduknya pun lebih sedikit daripada Indonesia. Jadi, sangat pantas jika mereka memberikan subsidi untuk BBM murah,
Laporan sedikit berbeda disampaikan perusahaan asuransi asal Inggris, Staveley Head, yang dirilis akhir 2011. Dalam surveinya, Staveley Head menyebutkan daftar 10 negara dengan harga BBM termurah di dunia. Perbedaan data itu bisa terjadi karena harga BBM naik turun sesuai dengan nilai mata uang (kurs) di masing-masing negara. Dalam laporan Staveley Head, Indonesia tidak masuk dalam daftar.

Sementara itu, berbeda dengan pengusaha-pengusaha lain yang menuntut kompensasi atas rencana kenaikan harga BBM bersubsidi, asosiasi pengusaha kapal yang tergabung dalam INSA justru sebaliknya. Mereka meminta kapal niaga diwajibkan membeli BBM nonsubsidi. ”Meski menurut Perpres Nomor 15/2012 kapal niaga masih mendapatkan BBM bersubsidi agar anggaran negara tidak defisit, kami meminta angkutan niaga diwajibkan memakai BBM nonsubsidi daripada diberi subsidi malah salah sasaran,” ujar Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto Senin (19/3). Dia mengaku, penyaluran BBM bersubsidi selama ini tidak banyak dinikmati kapal niaga.
Akhir Januari lalu, INSA telah mengirim surat kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mendukung agar subsidi BBM dihapus. Meski porsi biaya BBM terhadap total biaya operasional kapal bisa 40 persen.


BAB III
PENUTUP

Seperti yang dipaparkan di atas, kenaikan harga BBM hanya akan menyengsarakan kita sebagai rakyat. Meski demikian, ada kompleksitas tersendiri dari isu BBM ini. Misalnya, ada problem konsumsi BBM yang sudah melebihi produksi dalam negeri, sehingga mensyaratkan adanya impor untuk menutup gap antara konsumsi dan produksi BBM di Indonesia. Artinya, penolakan terhadap kenaikan harga BBM juga harus dibarengi dengan tuntutan-tuntutan lain yang memberikan solusi atas berbagai problem yang terkait dengan BBM. Sebagai contoh, dengan asumsi bahwa pemborosan BBM disebabkan oleh mobil pribadi, maka untuk menyelesaikan masalah pemborosan BBM, kita bisa mengajukan tuntutan kenaikan pajak mobil pribadi.

Selain itu, kenaikan harga BBM sekarang ini juga merupakan momen yang tepat untuk mempersoalkan kembali sepak terjang swasta, terutama swasta asing, dalam sektor minyak Indonesia. Tidak sulit untuk membayangkan siapa sebenarnya yang diuntungkan oleh kenaikan harga BBM ini. Kalau harga BBM sudah seragam, sesuai dengan harga pasar, tidak ada lagi BBM bersubsidi dan non-subsidi, maka yang langsung mendapat keuntungannya adalah pengecer minyak asing, seperti Shell, yang selama ini bersaing dengan Pertamina sebagai penyalur BBM bersubsidi. Semua ini tentu masih memerlukan pendiskusian lebih lanjut. Yang perlu disadari adalah bahwa sekalipun kita harus menolak kenaikan harga BBM, tapi hanya menolak saja sekarang ini sudah tidak cukup, kita juga harus mengajukan solusi alternatif.

DAFTAR PUSTAKA

-          http://www.tribunnews.com
-          http://nasional.kompas.com
-          http://www.TEMPO.com
-          http://www.radartasikmalaya.com
-          http://lembagainformasiperburuhansedane.blogspot.com

 
Tanah Grogot,Kabupaten Paser | OdhoSuka
Copyright © 2012. Odhosuka - All Rights Reserved
Design by Wahyu Desambodo
Proudly powered by Blogger